Perlihatkan Allah Kepadaku

Ayah, Perlihatkanlah Allah Kepadaku…!

Pada zaman dahulu, terdapat seorang laki-laki yang sangat sederhana, bersahaja, dan suci jiwanya. Ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat cerdik dan fasih dalam berbicara. Laki-laki itu sering menghabiskan waktunya bersama sang anak. Mereka benar-benar seperti sepasang sahabat sejati.

Kita dapat melihat bagaimana perbedaan usia dan jarak waktu tidak terlihat di antara keduanya. Seperti kain idaman yang terbuat dari sutra. Keduanya terlihat kompak dan saling memahami antara satu dan yang lain. Sayangnya, mereka berdua memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan yang sama tentang hakikat keberadaan alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Karena itu, ketika sang anak tidak tahu, sang ayah pun akan mengalami hal yang sama.

Pada suatu hari, sang ayah memandang anaknya dan berkata, “Terima kasih, Allah!”Sambil membelai kepala anaknya, sang ayah berkata, “Engkaulah nikmat paling berharga yang Allah berikan kepadaku.”

Maka, sang anak pun berkata, “Ayah…, Ayah selalu berbicara tentang Allah…. Perlihatkanlah Allah kepadaku!”

Dengan sangat kaget, sang ayah berkata, “Apa yang kamu ucapkan tadi, anakku?!” Sang ayah mengucapkan kata-kata tersebut dengan wajah terlihat bingung. Ini adalah sebuah pertanyaan anak kecil, yang ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan kepadanya….

Si ayah pun terdiam dan berpikir. Setelah itu, ia berpaling kepada anaknya. Dengan suara perlahan dan ragu-ragu, ia berbicara kepada anaknya, “Anakku, benarkah kamu memintaku untuk memperlihatkan Allah kepadamu?”

Dengan wajah tanpa dosa, sang anak menjawab, “Ya, benar…, perlihatkanlah Allah kepadaku, Ayah!”

Dengan setengah bergumam, sang ayah berkata, “Bagaimana aku dapat memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya?!”

Mendengar kata-kata itu, sang anak semakin mencecarnya dengan pertanyaan, “Mengapa Ayah…, apakah Ayah belum pernah melihatnya?”

Dengan perlahan, sang ayah menjawab, “Karena aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.”

Sang anak terus memaksa, “Dan seandainya aku meminta Ayah untuk pergi dan melihatnya, barulah setelah itu Ayah memperlihatkan-Nya kepadaku. Bagaimana?”

Dengan semangat, sang ayah menjawab, “Aku akan melakukannya anakku…, aku akan melakukannya.”

Sang ayah pun bangkit dari duduknya. Ia menghabiskan waktunya pada hari itu dengan menyusuri jalan-jalan di sekeliling kota. Ia terus bertanya tentang masalah yang dihadapinya kepada orang-orang. Sayangnya, mereka tidak dapat menjawabnya. Mereka telah disibukkan oleh perkara dunia dan sudah lupa kepada Allah.

Akhirnya, ia pun pergi kepada para ulama. Para ulama berusaha berbicara dan mendebatnya dengan teks-teks keagamaan, juga berbagai wacana yang berhubungan dengan ajaran agama. Sayangnya, tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat membuatnya puas. Akhirnya, laki-laki ini meninggalkan mereka dengan putus asa….

Ia terus menyusuri jalan-jalan kota tanpa arah tujuan, sambil berkata kepada dirinya sendiri, “Apakah aku harus pulang kepada anakku dengan tangan kosong, tanpa membawa pesanannya?”

Akhirnya, ia bertemu dengan seorang kakek yang memberi tahu, “Pergilah ke pinggiran kota. Di sana, kamu akan bertemu dengan seorang kakek, ahli ibadah. Setiap ia meminta kepada Allah, pasti permintaannya itu dikabulkan…. Mungkin di sanalah kamu akan mendapatkan seluruh jawaban dari permasalahanmu!”

Dengan semangat, sang ayah pergi kepada kakek itu dan berkata kepadanya, “Aku datang kepada Anda untuk mengadukan sebuah permasalahan. Saya harap, Anda tidak akan membuatku kecewa dan merasa gagal.”Si kakek itu pun mengangkat kepalanya sambil berkata dengan suara yang begitu dalam dan lembut, “Beri tahukanlah keinginanmu itu, anakku…!”

Si ayah itu berkata, “Kakek, aku mohon Anda berkenan memperlihatkan Allah kepadaku…!”

Sang kakek terlihat berpikir dan memegang janggutnya yang sudah memutih. Setelah itu, ia berkata, “Apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan tadi?”

Dengan harap-harap cemas, si ayah itu menjawab, “Benar, Kek…, aku ingin Anda memperlihatkan Allah kepadaku…!”

Dengan suara lembut dan dalam, sang kakek kembali berkata, “Anakku…, Allah tidak akan dapat dilihat oleh mata kasat kita dan Allah tidak akan dapat disentuh oleh fisik luar kita. Apakah kita dapat menelusuri kedalaman laut dengan jari-jari yang hanya dapat menelusuri kedalaman sebuah gelas…?!”

Dengan penuh penasaran, laki-laki itu kembali bertanya, “Lalu, bagaimana aku dapat melihat-Nya?”

Si kakek menjawab, “Apabila Allah membukakan jiwamu….”

Laki-laki itu terus bertanya lagi, “Dan, kapan Allah akan membuka jiwaku?”

Sang kakek menjawab, “Seandainya kamu beruntung mendapatkan cinta-Nya.”

Laki-laki itu pun langsung bersujud dan menyiramkan debu ke kepalanya. Setelah itu, ia mengambil tangan kakek yang ahli ibadah itu sambil berkata, “Kakek…, Anda adalah orang shaleh ahli ibadah…, pintalah kepada Allah untuk memberikan kepadaku sepotong cinta-Nya….”

Sang kakek akhirnya menyambut tangan laki-laki tersebut dengan lemah lembut dan berkata, “Tenang, Nak. Pintalah sedikit demi sedikit.”

Laki-laki itu kembali berkata, “Baiklah kalau begitu, berikan cinta-Nya kepadaku…, sekalipun hanya sebesar satu dirham.”

Si kakek langsung berkata, “Dasar tamak! Itu terlalu banyak.”

Laki-laki itu kembali berkata, “Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan seperempat dirham….”

Si kakek menjawab, “Turunkan lagi…, turunkan!”

Laki-laki itu lalu berkata, “Apakah kamu tidak dapat meminta cinta-Nya? Sekalipun hanya seberat biji sawi…? ”

Sang kakek kemudian berkata, “Tidak bisa….”

Laki-laki itu meminta lagi, “Bagaimana jika setengah berat biji sawi….”

Sang kakek menjawab, “Ya, mungkin saja….”

Si kakek lalu mengangkat kepalanya memandang ke arah langit sambil berkata, “Ya Allah, berikanlah rasa cinta-Mu kepadanya, sekalipun hanya seberat setengah biji sawi.”

Laki-laki itu akhirnya pergi dan meninggalkan si kakek.

Hari-hari pun berlalu. Keluarga laki-laki itu, anak, dan juga sahabat-sahabatnya mendatangi orang tua tadi dengan berbondong-bondong. Mereka mengatakan bahwa semenjak hari itu, laki-laki yang tidak lain ayah dari anak ini tidak pulang ke rumah dan keluarganya. Ia menghilang begitu saja dan tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya. Sang kakek ahli ibadah itu lalu berdiri dengan gelisah. Akhirnya, ia memutuskan untuk ikut mencari laki-laki tadi.

Setelah berhari-hari mencari, akhirnya mereka bertemu dengan sekelompok penggembala yang mengatakan bahwa ada seorang laki-laki gila yang naik ke atas gunung. Akhirnya, mereka segera mengikuti jejaknya dan menemukan laki-laki tersebut berdiri di tengah-tengah padang pasir. Pandangannya lurus ke arah langit. Mereka lalu mengucapkan salam kepadanya. Akan tetapi, laki-laki itu tidak menjawabnya.

Si kakek ahli ibadah tadi lalu berkata kepadanya, “Masih ingatkah kamu kepadaku…, aku kakek ahli ibadah yang kamu datangi….”

Akan tetapi, laki-laki itu tidak juga bergerak. Selanjutnya, giliran anak laki-lakinya yang maju dengan harap-harap cemas. Ia berkata dengan suaranya yang kecil dan lembut, “Ayah, apakah Ayah tidak mengenaliku?”

Sayangnya, tidak ada satu gerakan pun dari laki-laki itu setelah mendengar suara anaknya.

Akhirnya, keluarga laki-laki yang berada di sekelilingnya itu berteriak dan berusaha membangunkan kesadarannya. Akan tetapi, si kakek ahli ibadah tadi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata kepada mereka, “Tidak ada manfaatnya. Bagaimana mungkin orang yang telah mendapatkan cinta Allah, sekalipun beratnya hanya setengah biji sawi, dapat mendengar perkataan manusia. Demi Allah, seandainya kalian memotong dirinya dengan gergaji sekalipun, ia tidak akan menyadari hal itu!”

Kini, giliran anak kecil itu yang menjerit pilu, “Ini adalah kesalahanku. Akulah yang memintanya untuk memperlihatkan Allah kepadaku.”

Si kakek ahli ibadah itu lalu melirik kepada si anak. Dengan suara perlahan, ia berkata, seakan mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya sendiri, “Tidakkah kamu lihat, cucuku? Cahaya Allah yang hanya seberat setengah biji sawi telah mampu menghancurkan struktur tubuh manusia dan menghancurkan susunan jaringan saraf manusia!”

(Diterjemahkan dari buku “Arinillah” (Perlihatkanlah Allah kepadaku…!), karya Taufik el-Hakim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: