Mitos tentang Kehamilan (1)

Ibu hamil sering ‘dikepung’ berbagai anjuran, pantangan dan banyak kata ‘konon.’ Jangan bingung, apalagi mudah terpengaruh karena semua belum tentu benar.

1. Mitos: Jangan pengumuman hamil sebelum lewat 3 bulan.
Anda justru harus sgera mengabarkan berita gembira ini. Anda tak perlu menyembunyikan kehamilan Anda, terutama kepad asahabat, atasan serta rekan-rekan kerja di kantor. Sebab bisa saja di tengah meeting pagi hari, Anda tiba-tiba diserang rasa mual dan harus berkali-kali ke toilet. Apabila orang-orang di sekeliling mengetahui kondisi Anda, mereka dapat memberi dukungan mental serta bantuan kepada Anda. Nasihat untuk merahasiakan kehamilan tersebut bisa jadi mengingat pada rentang 3 bulan pertama, kemungkinan untuk terjadi keguguran masih cukup besar.
2. Mitos: Jenis kelamin dapat ditentukan dari bentuk perut dan ‘sinar’ ibu.
Banyak anggapan kalu bentuk perut calon bunda mancung maka janin yang dikandung pasti laki-laki. Sebaliknya kalau melebar, janinnya perempuan. Padahal jenis kelamin janin hanya ditentukan dengan melalui pemeriksaan USG. Demikian pula denyut jantung janin tidak dapat dijadikan ‘alat bantu’ untuk menentukan jenis kelamin. Anggapan denyut hantung janin cepat berarti laki-laki perempuan dan jika lamat artinya laki-laki, adalah salah. Yang benar: denyut jantung janin berfluktuasi setiap saat sejalan dengan usia kehamilan. Tentang penampilan yang ‘bersinar’ saat hamil bukan pertanda janin perempuan. Meski bayi Anda laki-laki, Anda etap akan terlihat cantik dan ‘bersinar’ begitu memasuki trimester ke-2. Itu karena Anda sudah mulai menikmati kehamilan. Kadar hormon yang mulai stabil akan membuat nafsu makan kembali. Sirkulasi darah ke arah janin pun lancar.

3. Mitos: Anda harus makan dengan porsi untuk 2 orang.
Untuk tetap sehat dan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi janin, tubuh Anda hanya butuh tambahan 300 kalori setiap hari. Atau tambahan makan sebanyak seperempat porsi makan Anda dalam keadaan normal. Cukup itu saja.

4. Mitos: Makanan ikut menentukan warna kulit janin.
Konon, ibu hamil yang mengonsumsi makanan mengandung zat besi, warna kulit bayinya akan gelap. Padahal, Anda sangat membutuhkan zat besi, karena produksi sel-sel darah meningkat. Kekurangan zat besi akan berisiko mengalami anemia. Warna kulit bayi ditentukan oleh factor genetik yang Anda dan pasangan wariskan, bukan oleh makanan.

5. Mitos: Kalau mengangkat tangan di atas kepala, janin bisa terlilit tali pusat.
Sekitar 20-25% bayi memang memiliki kemungkinan lahir terlilit tali pusat. Ada yang terlilit di leher, ada juga yang di kaki. Kemungkinan ini sama sekali tidak berkaitan dengan gerakan tangan si ibu. Janin dengan tal pusat yang panjang, lebih dari satu meter, beresiko lebih besar untuk terlilit dibandingkan yang tali pusatnya hanya 32-80 cm. apalagi, kalau janin tersebut tergolong aktif bergerak, jungkir balikk di dalam kantung ketuban.

6. Mitos: Posisi tidur menentukan cara bersalin.
Memang benar ada anjuran para tetua agar ibu hamil tidur dengan posisi tertentu. Misalnya, menghadap altar atau kiblat, arah matahari terbit, dan lainnya. Tujuannya ada yang berharap agar bayi berjenis kelamin tertentu atau kelak dapat melahirkan secara alami. Apapun posisi tidur Anda, selama itu nyaman, sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, ketika usia kandungan memasuki trimester akhir, dokter akan menyarankan tidur dengan posisi miring ke kiri. Paling tidak, tidurlah dengan posisi ini selama 10 menit, 2 kali sehari agar pembuluh darah utama tidak tertekan oleh janin yang sudah besar, sehingga mengganggu aliran darah. Sesederhana itu saja alasannya.

7. Mitos: Supaya bayi cepat lahir, makan yang pedas-pedas.
Saluran pencernaan dan saluran untk melahirkan tentu saja berbeda. Terllau banyak makanan yang pedas pasti akan membuat perut teras mulas. Namun, ini jelas bukan mulas yang meuncul menjelang persalinan. Mulas kerena kepedasan hanya akan mendorong Anda untuk buang air besar. Mitos ini serupa dengan mitos yang menyarankan untuk minum minyak kelapa supaya cepat melahirkan.

8. Mitos: Lebih baik episiotomi dari pada robek sendiri.
Ini berkaitan dengan perobekan perinemun (daerah antara vagina dan anus) pada saat bersalin secara alami. Bisa dilakukan penguntingan (episiotomi), bisa juga dibiarkan robek sendiri secara alami. Apabila perineum robek secara alami biasanya robekannya hanya sedikit dan tidak mencapai lapisan otot. Robekan ini umumnya sembuh lebih cepat daripada diguntying. Karena kadangkala episiotomi dapat mencapai lapisn otot, sehingga lukanya lebih lama sembuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: